The Miracles

Hidup ini selalu di penuhi dengan misteri dan keajaiban... Akan tetapi sering kali keajaiban dan anugerah itu diabaikan... Buka mata dan resapi kehidupan ini. Sambut keajaiban hidup yang masih menjadi misteri...

Artikel

Bahasa Indonesia Berasal dari Bahasa Melayu

ABSTRAK
Bahasa merupakan salah satu aspek yang tak terpisahkan dari seluruh kehidupan manusia. Karena bahasa merupakan karunia dari Tuhan untuk manusia. Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dipakai dalam berbagai keperluantentu tidak seragam, tetapi akan berbeda-beda disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Keanekaragaman penggunaan bahasa Indonesia itulah yang dinamakan ragam bahasa Indonesia. Alasan mengapa bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia dikarenakan berdasarkan dari waktu penggunaannya. Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa persatuan di Indonesia pada 28 Oktober 1928 dalam peristiwa yang disebut Sumpah Pemuda. Sejak saat itu, bahasa melayu yang digunakan di wilayah Indonesia sekarang mulai dinamai Bahasa Indonesia. Namun, secara resmi penyebutan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di Indonesia baru muncul pada 18 Agustus 1945 ketika konstitusi Indonesia diresmikan.
Kata Kunci: Bahasa, Melayu, Indonesia.

1.      Pendahuluan
Sejak zaman dahulu, bahkan mungkin sejak zaman manusia diciptakan, bahasa merupakan salah satu aspek yang tak terpisahkan dari seluruh kehidupan manusia. Karena bahasa merupakan karunia dari Tuhan untuk manusia. Oleh karena itu, bahasa sampai saat ini merupakan salah satu persoalan yang sering dimunculkan dan dicari jawabannya. Mulai dari pertanyaan “apa itu bahasa?” sampai dengan “dari mana asal bahasa itu?”
Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, yang bersifat arbitrer, yang digunakan oleh suatu masyarakat dalam bertutur untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.
Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dipakai dalam berbagai keperluantentu tidak seragam, tetapi akan berbeda-beda disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Keanekaragaman penggunaan bahasa Indonesia itulah yang dinamakan ragam bahasa Indonesia. Alasan mengapa bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia dikarenakan berdasarkan dari waktu penggunaannya. Ragam bahasa Indonesia lama dipakai sejak zaman Kerajaan Sriwijayasampai dengan saat dicetuskannya Sumpah Pemuda. Ciri ragam bahasa Indonesia lama masih dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Bahasa Melayu inilah yang akhirnya menjadi bahasa Indonesia. Alasan Bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia :1) Bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca,2) Bahasa Melayu sederhana karena tidak mengenal tingkatan bahasa,3) Keikhlasan suku daerah lain ,dan4) Bahasa Melayu berfungsi sebagai kebudayaan.

2.      Pembahasan
2.1 Bahasa Melayu Diangkat Menjadi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia secara historis merupakan varian bahasa melayu yang kini juga digunakan di wilayah yang luas meliputi Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, bagian selatan Thailand, bagian selatan Filipina, dan beberapa tempat di Afrika Selatan.
Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa persatuan di Indonesia pada 28 Oktober 1928 dalam peristiwa yang disebut Sumpah Pemuda. Sejak saat itu, bahasa melayu yang digunakan di wilayah Indonesia sekarang mulai dinamai Bahasa Indonesia. Namun, secara resmi penyebutan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di Indonesia baru muncul pada 18 Agustus 1945 ketika konstitusi Indonesia diresmikan.
Dari jumlah pemakainya di Indonesia, sebenarnya bahasa melayu bukan bahasa terbesar. Bahasa Jawalah yang merupakan bahasa terbesar dari segi pemakainya pada saat itu. Namun, bahasa melayu dipilih sebagai bahasa Indonesia karena bahasa ini sudah menjadi lingua franca atau bahasa pengantar di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara sejak ribuan tahun lalu. Salah satu buktinya adalah catatan inskripsi di Sojomerto, Jawa Tengah yang menggunakan bahasa Melayu kuna. Inskripsi ini tidak bertahun, tetapi menurut estimasi ahli dibuat pada pertengahan abad 7. Ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu pun sudah dikenal di Pulau Jawa sejak ribuan tahun lalu.
Mengapa bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia karena bahasa melayu merupakan suatu kebudayaan bagi Indonesia, selain itu juga penggunaan bahsa Indonesia sangatlah mudah ,tidak perlu mengenal tingkatan bahasa lain .Selain itu juga banyak sekali kemiripan antara bahasa Indonesia dengan bahasa melayu,mulai dari pengartiannya dan bahasanya.mungkin hanya secara penyampaiannya yang berbeda.
Bahasa melayu mempunyai peranan yang sangat penting di berbagai bidang atau kegiatan di Indonesia pada masa lalu. Bahasa ini tidak hanya sekedar sebagai alat komunikasi dibidang ekonomi (perdagangan). Tetapi juga dibidang visual (alat komunikasi massa). Politik (perjanjian antar kerajaan). Sejak itulah penguasaan dan pemakaian bahasa melayu menyebar ke seluruh pelosok kepulauan Indonesia. Perkembangan bahasa melayu tersebut dinamakan perkembangan konseptual yang memiliki tiga bentuk. Pertama, perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh interaksi antar daerah, Kedua, perkembangan bahasa daerah yang lain, dan yang terakhir perkembangan bahasa yang di akibatkan oleh pertemuan bahasa melayu dalam konteks yang lebih luas. Bahasa melayu berkembang berdasarkan interaksi dengan lingkungan sosial yang bersinggungan antar ruang dan waktu, yang mana terjadi suatu hal yang sedang mempengaruhi penggunaan bahasa. Historis tersebut dapat dilihat dari asal usul bahasa yang merupakan awal komunikasi antar orang yang menggunakan bahasa isyarat ke kata-kata yang semakin komunikatif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi diambilnya bahasa melayu menjadi bahasa Indonesia :
  1. Bahasa melayu adalah bahasa sederhana. Komunikatif, dijadikan bahasa yang menjadi ciri khas bagi perdagangan dan pelayanan di pelabuhan Indonesia maupun di negara-negara luar Indonesia.
  2. Bahasa melayu tidak mempunyai tingkatan-tingkatan bahasa seperti yang dimiliki oleh bahasa lain.
  3. Bahasa melayu dijadikan bahasa kebudayaan.
Alasan Bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia :
  1. Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan
  2. Bahasa Melayu sederhana karena tidak mengenal tingkatan bahasa,
  3. Keikhlasan suku daerah lain 
  4. Bahasa Melayu berfungsi sebagai kebudayaan
  5. Bahasa melayu sudah merupakan lingua franca di indonesia, bahasa perhubungan,  bahasa  perdagangan
  6. Sistem bahsa melayu sederhana, mudah dipelajari karena dalam dalam bahsa ini tidak dikenal tingkatan bahsa seperti dalam bahsa ini tidak dikenal tingkatan bahsa seperti dalam bahsa jawa (ngoko,kromo)
  7. Suku jawa, suku sunda, dan suku-suku yang lain dengan suka rela menerima bahsa melayu sebagai bahasa Nasioanal
  8. Bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas
2.2.Sejarah perkembangan bahasa melayu kebahasa indonesia
Bahasa-bahasa yang tersebar di dunia ini tidak hanya tumbuh dalam seting historis tertentu, tetapi juga berkembang berdasarkan interaksi dengan lingkungan sosial tertentu yang bersinggungan antar ruang dan waktu. Ini yang menyebabkan terjadinya saling mempengaruhi dalam penggunaan bahasa. Perkembangan historis itu dapat dilihat dari asal usul bahasa yang merupakan alat komunikasi antar orang yang berkembang dari bahasa isyarat ke kata-kata yang semakin komunikatif.
Perkembangan itu juga berlangsung dalam satu ruang sosial. Perubahan-perubahan ruang yang terjadi telah menyebabkan satu bahasa bertemu dengan bahasa lain. Daerah perbatasan, misalnya mempertemukan suatu tempat dengan tempat lain, saling pengaruh antar bahasa terjadi dengan intensitas yang melebihi daerah-daerah lain. Pertemuan itu menyebabkan saling pengaruh dan memperkaya khasanah bahasa masing-masing, sehingga itudapat memperkaya perbendaharaan kata baru.
Perkembangan bahasa dalam konteks tersebut di atas memiliki tiga bentuk: pertama perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh interaksi antar daerah; kedua perkembangan yang bahasa disebabkan oleh interaksi antara satu bahasa daerah dengan bahasa daerah yang lain; dan yang terakhir, perkembangan bahasa yang diakibatkan oleh pertemuan bahasa ini dalam konteks yang lebih luas (Irwan Abdullah, 2007).
Menurut ahli etnologi dan filologi, bahasa Melayu termasuk bahasa Austronesia, berasal dari Kepulauan Riau (Sumatera) telah mengalami proses perkembangan seperti itu. Mula-mula bahasa ini hanya dipercakapkan terbatas oleh penuturnya di Riau dan sekitarnya. Secara kebetulan, karena kepulauan ini terletak di jalur perdagangan yang sangat ramai di selat Malaka; dan penduduknya sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan atau pedagang antar pelabuhan; serta bahasanya mudah dipahami atau komunikatif; maka penutur bahasa Melayu sering berinteraksi dengan penutur bahasa yang lain (seperti bahasa Hindi, Malagasi, Tagalok, Jawa, dan lain-lainnya) sehingga menjadi dikenal dan berkembang di Malaka dan daerah-daerah sekitarnya (Vlekke, 2008: 11). Akhirnya bahasa ini tidak hanya digunakan oleh para pedagang di sekitar perairan Malaka, tetapi juga di seluruh Nusantara.Pada Zaman Kerajaan majaphit, atau diperkirakan sebelum abad XV, bahasa Melayu itu telah menjadi lingua franca – bahasa dagang - bagi para saudagar di pelabuhan-pelabuhan di Asia, Asia Tenggara, dan Asia Timur (Ricklefs, 1991: 77; Linschoten, 1910: Bab IV)
Pada bulan Agustus 2002, bahasa Melayu – dianggap banyak penuturnya di dunia - pernah ditulis di dalam salah satu surat khabar di Malaysia bahwa bahasa Melayu menduduki posisi keempat dalam urutan bahasa utama dunia, setelah Bahasa Tionghoa, Inggris, dan Spanyol. Menurut James T. Collins, hal itu tidak betul. Ia mengatakan bahwa jumlah penutur bahasa Melayu di seluruh dunia hanya 250 juta orang, sedang penutur bahasa Hindi – yang menjadi bahasa ibu maupun bahas kedua (ketiga) di India dan di negara lain seperti di Mauritius, Afika selatan, Yaman, dan lain-lain pada thun 1988 – berjumlah 300-435 juta orang (J.C. Collins, 2009, hal. 14-21).
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa melayu mempunyai peranan yang sangat penting di berbagai bidang atau kegiatan di Indonesia pada masa lalu. Ini tidak hanya sekedar sebagai alat komunikasi di bidang ekonomi (perdagangan), tetapi juga di bidang sosial (alat komunikasi massa), politik (perjanjian antar kerajaan), dan sastra-budaya (penyebaran agama Islam dan Kristen) (Suryomihardjo, 1979, hal. 63). Di Indonesia banyak karya sastra berbahasa Melayu, di antaranya seperti Hikayat Raja Pasai,Sejarah Melayu, Hikayat Hasanudin, dan lin-lain.
Sejak itu penguasaan dan pemakaian bahasa Melayu menyebar ke seluruh pelosok kepuluan Indonesia (tidak hanya di daerah pantai atau pelabuhan tetapi juga di pedalaman) dan memberikan wilayah yang heterogen itu suatu kesan kebersatuan kepada pihak luar. Tetapi ada juga kesatuan yang lebih mendalam yang mengikat bersama sebagian besar suku bangsa dan orang Indonesia. Keastuan ini muncul dari unsur-unsur dasar yang umum dari peradaban mereka.
Kemudian muncullah sebuah pertanyaan, bagaimana bahasa Melayu tersebut dapat diadopsi menjadi bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia, di negara RI? Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak lama telah menjadi pembicaraan luas. Seperti telah diceriterakan di atas bahwa bahasa Melayu yang aslinya merupakan salah satu bahasa daerah dari kurang lebih 512 bahasa daerah di wilayah Indonesia (Irwan Abdullah, 2008), telah lama memiliki peranan penting di bidang ekonomi, sosial, politik, dan sastra-budaya.
Selanjutnya, pada awal abad XX di Indonesia berkembang suatu situasi yang mendorong munculnya suatu pemikiran akan perbaikan nasib terhadap rakyat pribumi dari pemerintaah kolonial Belanda melalui kebijakan Politik Etis (Kahin, 1952)., yang meliputi: program edukasi, transmigrasi, dan irigasi. Melalui program edukasi itulah, sekolah-sekolah bumi putra bermunculan dengan pengantar bahasa daerah, di mana sekolahan itu berada. Pada perkembangan berikutnya, pemerintah menuntut agar setiap sekolah menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantarnya.Tetapi sejak awal abad xx kepentingan daerah jajahan memerlukan tenaga-tenaga rendahan yang mengerti bahasa Belanda, kemudian muncul sekolah-sekolah dengan pengantar bahasa Belanda. Di kota-kota, sekolah lebih banyak mengajarkan bahasa Belanda.
Dengan sistem pendidikan itu, kemudian munculah kelompok elit baru yang amat peka terhadap perubahan jaman (Pringgodigdo, 1970; Savitri, 1985). Tanda-tanda kepekaan terhadap perubahan itu dapat dilihat dengan lahirnya organisasi yang bercorak polityik yang mencita-citakan kemajuan dan kemerdekaan bangsa, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij. Sangat menarik untuk dicatat ialah mengenai bahasa yang dipakai di dalam konggres-konggres oleh orgranisasi pergerakan Indonesia pada waktu itu adalah kebanyakan bahasa Melayu, Jawa, dan Belanda. Salah seorang pelajar yang tergabung dalam Indonesische Verbond van studeerenden di Wageningen, Belanda, pada tahun 1918 telah mengusulkan agar bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah di Indonesia (A. Suryomihardjo, 1979).
Di Indonesia sendiri perkembangan pers berbahasa Melayu dinilai sangat penting peranannya, karena pers itu dapat langsung mencapai penduduk bumi putera. Pada mulanya pers Melayu adalah milik orang Belanda maupun Cina, tetapi tidak jarang dewan redaksinya campuran. Umumnya guru bahasa Melayu yang duduk di dalam dewan redaksi. Kemudian bermunculan mingguan dan surat khabar berbahasa Melayu, Jawa, dan Belanda, seperti Medan Priyai (1907-1912), Sarotama (1914), Indonesia Merdeka (1923), Bataviaasch Genootschap, dan lain-lain (A. Surjamihardjo, 1979).
Dengan munculnya majalah dan surat khabar-surat khabar berbahasa daerah itu, pemerintah kolonial Belanda merasa kawatir. Banyak kasus persdelict di Indonesia pada waktu itu, yaitu larangan terbit bagi brosur dan pers yang berbahasa daerah. Suatu contoh terbitnya artikel yang berjudul Als ik eens Nederlander was, dan dalam bahasa Melayu, Jikalau saya sorang Belanda, pada tahun1913 dilarang untuk diterbitkan. Artikel ini menceriterakan pengecaman terhadap perayaan seratus tahun kemerdekaan Belanda yang akan di selenggarakan di Indonesia.
Melalui perkembangan pendidikan dan pengajaran yang semakin maju di Indonesia, bahasa Melayu menjadi semakin populer dan bersifat egaliter, sehingga sidang-sidang atau kongres-kongres dari organisasi pergerakan nasional Indonesia menggunakan Bahasa Melayu. Ini ternyata menjadikan bekal untuk mempersatukan seluruh bangsa Indonesia dalam berjuang melawan pemerintah Kolonial Belanda.
Oleh karena itu, para pemuda Indonesia dalam konggresnya yang ke 2 bersatu pada tanggal 28 Oktober 1928 bertekat bulat untuk menggalang persatuan dan kesatuan dengan Sumpah Pemuda Indonesia Raya. Konggres itu menghasilkan keputusan: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sejak itulah bahasa Melayu disepakati untuk diangkat sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional yaitu Bahasa Indonesia (Pringgodigdo, 1970).
3.      Penutup
Bahasa melayu merupakan suatu kebudayaan bagi Indonesia, selain itu juga penggunaan bahsa Indonesia sangatlah mudah ,tidak perlu mengenal tingkatan bahasa lain .Selain itu juga banyak sekali kemiripan antara bahasa Indonesia dengan bahasa melayu,mulai dari pengartiannya dan bahasanya.mungkin hanya secara penyampaiannya yang berbeda.
Melalui perkembangan pendidikan dan pengajaran yang semakin maju di Indonesia, bahasa Melayu menjadi semakin populer dan bersifat egaliter, sehingga sidang-sidang atau kongres-kongres dari organisasi pergerakan nasional Indonesia menggunakan Bahasa Melayu. Ini ternyata menjadikan bekal untuk mempersatukan seluruh bangsa Indonesia dalam berjuang melawan pemerintah Kolonial Belanda.

Oleh karena itu, para pemuda Indonesia dalam konggresnya yang ke 2 bersatu pada tanggal 28 Oktober 1928 bertekat bulat untuk menggalang persatuan dan kesatuan dengan Sumpah Pemuda Indonesia Raya. Konggres itu menghasilkan keputusan: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sejak itulah bahasa Melayu disepakati untuk diangkat sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional yaitu Bahasa Indonesia.

Oleh: Diana Lutfiana Ulfa
PGMI 7A (3217113025)

ABSTRAK
Modernisasi pendidikan Islam di Thailand yang berawal dari pendidikan Pondok tradisional, berubah menjadi pondok modren, yang mengadopsi sistem madrasah atau disebut juga sekolah Islam Swasta. Dua hal yang menyebabkan terjadinya dinamika pembahuruan (modernisasi) dikalangan Pondok di Thailand Selatan. Pertama tuntutan kemajuan dan perubahan zaman. Kedua keikutsertaan Pemerintah Thailand untuk memasukkan mata pelajaran umum ke Pondok. Lembaga pendidikan Islam yang ada di Thailand Selatan yakni : Patani , Yala, Narathiwat, dan Sonkhla. Dua hal yang menyebabkan terjadinya pembaharuan (Modernisasi) dikalangan Pondok di Thailand Selatan. Pertama tuntutan kemajuan dan perubahan zaman, Kedua keikut sertaan pemerintah Thailand untuk memasukkan mata pelajaran umum ke Pondok.
Kata kunci: Modernisasi, Pendidikan Islam, Thailand

Kata yang lebih dikenal dan lebih populer untuk pembaharuan ialah modernisasi. Dalam masyarakat Barat kata modernisasi mengandung pikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk merubah faham-faham adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya agar semuanya itu dapat disesuaikan dengan pedapat- pendapat dan keadaan-keadaan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan modren. Fikiran dan aliran itu timbul pada priode yang disebut Age of Reason atau Englightenment (masa akal atau masa terang) 1650 -1800 M.
Faham ini mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Barat dan segera memasuki lapangan agama yang di Barat dipandang sebagai penghalang kemajuan. Modernisasi dalam hidup keagamaan di Barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katolik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat modren. Aliran ini akhirnya membawa kepada sekularisme di Barat.
Sebagian besar kaum muda Muslim yang datang ke Barat sering kali memasuki lembaga Barat, pengalaman mereka yang paling dekat adalah pendidikan, juga sebahagian besar generasi muda Muslim yang tengah menempuh pendidikan dalam lembaga-lembaga pendidikan modren didunia Islam sendiri meniru model Barat dan didirikan sejak abad 13-19. Diberbagai negara Islam , dengan tujuan memperkenalkan ciri belajar modren kepada kalangan muslim, karena penting untuk memahami lebih dalam lagi tentang peran dan makna pendidikan serta lembaga- lembaga pendidikan di Barat modren dan juga akar sejarah pendidikan Barat.
Menurut Walyusah sebagaimana dikutip oleh Haidar, Thailand adalah salah satu dari negara Asia tenggara yang apabila ditinjau dari sudut agama yang dianut oleh penduduknya, mayoritas beragama Budha. Umat Islam adalah penduduk minoritas dari jumlah keseluruhan penduduk Thailand, mayoritas umat Islam di Thailand tinggal di wilayah Selatan Thailand, yaitu daerah yang disebut dengan Patani, daerah ini meliputi propinsi Yala, Narathiwat, Patani, Setun dan sebagian Sonkhla, dihuni oleh sekitar 5 juta jiwa yakni 8 % dari jumlah seluruh penduduk Thailand yang berjumlah 65 juta jiwa. Diwilayah ini dihuni sekitar 85% masyarakat muslim.
Masuknya Islam ke Patani tidak bisa dilepaskan dengan masuknya Islam ke Asia Tenggara. Rentetan penyiaran Islam di Nusantara ini merupakan satu kesatuan dari mata rantai peroses Islamisasi di Nusantara. Hal ini tentu terkait dengan seputar pendapat yang menjelaskan tentang masuknya Islam ke Nusantara yang secara garis besar dibagi pada dua pendapat yang mengatakan Islam masuk ke wilayah ini pada abad ke tujuh Masehi dan langsung dari Arab dan pendapat yang mengatakan Islam masuk ke Nusantara pada abad ketiga belas masehi berasal dari India. Sejalan dengan masuknya Islam ke Thailand terjadilah peroses Islamisasi terutama di daerah Thailand Selatan yaitu di Patani. Peroses Islamisasi ini tidak bisa dilepaskan dari peranan pendidikan. Pada tahap awal pendidikan yang berkembang adalah pendidikan informal yaitu kontak informal antara mubaligh dengan masyarakat setempat, selanjutnya ditindaklanjuti dengan munculnya pendidikan non formal, dan terakhir pendidikan formal, yang diawali dengan pendidikan pondok dan kemudian terjadi perubahan, dengan munculnya madrasah.
Pada jurnal ini penulis akan membahas tentang modernisasi pendidikan Islam di Thailand yang berawal dari pendidikan Pondok tradisional, berubah menjadi pondok modren, yang mengadopsi sistem madrasah atau disebut juga sekolah Islam Swasta.
Modernisasi berasal dari kata modern,yang berarti baru, kemudian dikembangkan menjadi modernisasi yang berarti proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini. Kata modern dan modernisasi sudah umum dipakai dalam masyarakat yang memberi kesan penghargaan, kemajuan, perbedaaan dari hal yang lazim. Sidi Gazalba dalam bukunya “Modernisasi Dalam Persoalan, Bagaimana Sikap Islam.” menjelaskan kata-kata modernisasi dengan secara rinci, dan menyimpulkan bahwa inti pengertian modren itu ialah: yang baru, dan pengungkapan modernisasi disebut pembaharuan.
Menurut Hasan Asari, ’Pembaharuan ‘merupakan terjemaham Indonesia untuk kata ‘tajdid’ (Arab) atau ‘Modernization ‘(Inggris). Secara etimologis kata “Pembaharuan“ adalah kata jadian dari “Baharu” yang berarti proses membuat sesuatu yang lama menjadi baru, yang berarti upaya memperbaharui pemahaman agama Islam dari pemahaman lama kepada pemahaman baru, yang lebih sesuai dengan kondisi sekarang. Selanjutnya Hasan Asari juga mengutip ungkapan Syafi’i Ma’arif yang mengatakan bahwa pembaharuan adalah upaya intelektual Islam untuk menyegarkan dan memperbaharui pengertian dan pemahaman umat Islam terhadap agamanya dalam berhadapan dengan perubahan dan pengembangan masyarakat.
Pendidikan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan sebagai “proses pengubahan sikap dan tata laku seseoarang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.“Demikian juga Fadhil al-Djamili dalam definisinya mengenai pendidikan Yaitu upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia lebih maju dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna baik yang berkaitan dengan akal, perasaan maupun perbuatan. Sedangkan Al-Thoumy Al-Syaibani mendefinisikan pendidikan sebagai proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi ,masyarakat dan alam sekitarnya dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi diantara berbagai profesi azasi dalam Islam.
Masuknya agama Islam ke Selatan Thailand (Patani) tidak bisa dilepaskan dengan masuknya Islam ke Asia tenggara. Rentetan penyiaran Islam di Nusantara ini merupakan satu kesatuan dari mata rantai peroses Islamisasi di Nusantara. Hal ini tentu terkait dengan seputar pendapat yang menjelaskan tentang masuknya Islam ke Nusantara yang secara garis besar di bagi pada dua pendapat, yakni pendapat yang mengatakan Islam masuk ke wilayah ini pada abad ke tujuh Masehi dan langsung dari Arab dan pendapat lain mengatakan Islam masuk ke Nusantara pada abad ketiga belas Masehi berasal dari India.
Sebagai bukti awal yang bisa ditunjukkkan tentang kedatangan Islam ke Patani adalah pada tulisan bertarikh 4 Rajab tahun 702 H. bersamaan dengan 22 Februari 1387. Ada juga batu nisan di Champa yang bertarikh 1039, sedangkan di semenanjung Tanah Melayu ditemukan batu nisan seorang wali Allah keturunan Arab bertarikh 1029 (419 H) ditemukan di Pihan, Pahang.
Sejarah awal Patani diperkirkan muncul pada tahun 1390. Raja Islam pertama Kerajaan Patani adalah Sultan Isma’il Syah (1500-1530). Beliaulah peletak dasar kerajaan Melayu Islam Patani. Sejak kemunculan Kerajaan Islam Patani ini selalu saja terjadi perjuangan untuk melepaskan diri dari pengaruh Siam. Sultan Midzaffar Syah (1530-1564) pernah berupaya dua kali untuk menyerang dan menundukkkan kota Ayuthia ibu kota kerajaan Siam tapi gagal.
Islamisasi di Patani, banyak dikaitkan dengan usaha kerajaan Islam Samudra Pasai pada abad ke- 12 dan 13 M yang telah begitu aktif melaksanakan dakwah Islam di kawasan ini. Raja Patani yang pertama masuk Islam menggati namanya dengan Sultan Ismail Zilullah Fil Alam atau lebih dikenal dengan Sultan Isma’il Syah.
Proses Islamisasi di Patani tidak bisa dilepaskan dari peranan pendidikan. Pada tahap awal pendidikan informal sangat berperan, yaitu kontak informal antara mubaligh dengan rakyat setempat selanjutnya ditindak lanjuti dengan munculnya pendidikan non formal dan terakhir pendidikan formal.
Pada tahap awal pendidikan agama Islam di kawasan Thailand Selatan dilaksanakan pendidikan al-Qur’an. Pengajian al-Qur’an adalah sesuatu yang mesti dipelajari oleh setiap muslim. Pengajian al-Qur’an ini dilaksanakan di Masjid dan di rumah-rumah Tok guru yang dijadikan tempat pengajian al-Qur’an. Selanjutnya muncullah pendidikan Pondok. Pondok berposisi sebagai lembaga pendidikan yang amat penting di Thailand Selatan.
Alumnus pondok memiliki posisi yang sangat penting dan memiliki peranan yang strategis di tengah-tengah masyarakat, mereka pemimpin masyarakat khususnya dalam bidang keagamaan menjadi imam, khotib bilal, menjadi ahli jawatan mesjid, paling tidak menjadi to’lebai.
Pendidikan formal yang dilaksanakan pemerintah dimulai pada masa raja Chalalongkarn atauRama V pada tahun 1899. Sekolah ini kurang mendapat sambutan masyarakat. Melihat itu pada tahun 1921 pemerintah mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan sekolah mulai ditingkat sekolah dasar kelas satu sampai kelas empat. Kendatipun undang-undang tersebut dikeluarkan, namum masyarakat Islam di kawasan Thailand selatan (khusus di empat wilayah: Patani, Yala, Narathiwat dan Satun) tidak menyambut dengan baik pemberlakuan undang-undang tersebut. Terbukti statistik tahun 1960 tamat Sekolah Dasar kelas satu sampai kelas empat di wilayah tersebut hanya 13,67% masyarakat masih terkait erat dengan pendidikan pondok.
Kebijakan pemerintah Thailand berikutnya pada tahun 1966, adalah mewajibkan seluruh institusi pondok untuk mendaftarkan diri ke pemerintah dibawah Akta rongrian Rat Son Sasna Islam (Sekolah swasta Mengajar agama Islam). Sejak itu mulai perubahan pendidikan pondok di Selatan Thailand. Perubahan itu memunculkan timbulnya madrasah-madrasah yang memiliki ciri:
a.    Madrasah adalah lembaga pendidikan gabungan antara pendidikan agama dan akademik. Guru-guru pendidikan akademik disediakan oleh pemerintah. Pemerintah memberi bantuan terhadap sekolah-sekolah agama yang telah melaksanakan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
b.    Pada akhir tahun 1970-an sekolah-sekolah agama yang telah memiliki dua aliran ini (agama dan akademik) mendapat sambutan dari masyarakat. Banyak pelajar-pelajar dikirim untuk menuntut ilmu pengetahuan ke instusi tersebut. Dengan demikian peranan pondok semakin mengecil.
c.    Pada tahun 1981 ada sejumlah 199 sekolah agama, 122 diantaranya yang melaksanakan pendidikan dan akademik (umum).
Sama halnya dengan apa yang terjadi diberbagai negara tetangga Thailand lainnya seperti Indonesia dan Malaysia, maka di Thailand sistem pendidikan Pondok mengalami dinamika dan perubahan. Perubahan (Modernisasi) itu terjadi disebabkan berbagai Faktor antara lain masuknya ide-ide pembaharuan kesistem Islam di Thailand, khususnya Patani, setelah perang dunia kedua timbul dinamika perubahan tersebut. Sistem pendidikan yang tidak tersetruktural tersebut berubah kepada sistem pengajaran yang tersetruktur. Dengan beberapa kebijaksanaan dan tekanan imperialis Thai terhadap masyarakat melayu Patani mengakibatkan para cendikiawan dan beberapa ahli, berfikir keras untuk mempertahankan dan meningkatkan tarap kehidupan beragama di kalangan masyarakat Islam di Patani. Pada tahun 1933 Haji Sulong mendirikan sekolah modren pertama di Patani sebagaimana ditulis oleh Chalermkiat Khuntongpech.bahwa : Projek pembangunan sekolah Agama pertama di Patani mulai dibangun pada penghujung tahun 1933 dengan jumlah dana 7200 Bath.yang disumbangkan oleh umat Muslim yang berada dikampung anak -Ru dan sekitarnya dengan diberi nama sekolahnya Madrasah Al- Ma ’arif Al - Wathaniyah Fathani. Oleh karena itu maka lembaga pendidikan Pondok secara bertahap berubah menjadi sekolah swasta Islam (madrasah) dan terdaftar secara resmi di pemerintah. Sejak tahun 1961 (1961 / 2504 BE) sampai tahun 1971 (1971 /2514 BE) lebih dari empat ratus pondok yang telah menerima program pendaftaran tersebut.
Dinamika Pondok ini terjadi di Patani terutama setelah pemerintah ikut serta untuk melaksanakan perubahan di Pondok, diantaranya adanya usaha memasukkkan mata pelajaran umum. Usaha itu pada mulanya mendapat tantangan dari kaum ulama, tetapi karena usaha yang serius dari pemerintah maka usaha tersebut berhasil.
Pondok adalah lembaga pendidikan yang berdiri sebagai pengembangan dari lembagapendidikan Istana dan Mesjid. Pondok adalah lembaga pendidikan tertua di Patani dan diantara pondok-pondok tertua itu adalah pondok Dala, Bermin, Semela, Dual, Kota, Gersih, Telok Manok, yang mempunyai pengaruh besar, bagi pertumbuhan pendidikan Islam didaerah ini, oleh karena pondok-pondok ini banyak didatangi pelajar-pelajar dari luar Patani Karena itu pondok-pondok ini banyak sekali pengaruhnya bagi perkembangan bahasa Melayu, pengaruhnya juga sampai ke Brunai dan Kamboja.
Hasan Madmarn, menjelaskan dalam bukunya “The Pondok and Madrasah in Patani” bahwa Chana sebuah kota di Provinsi Songkla ditahun 1930-an sampai tahun 1950 -an, adalah sebuah kota yang amat populer bagi masyarakat muslim, karena dikota ini ditemukan lembaga pendidikan Islam tradisional, disebut namanya dengan pondok dan diajar oleh tok guru. Tempat ini sangat menarik generasi muda Islam dari berbagai daerah seperti Naharu, Si Thammaraj, Trang, Krabi, Panganga Surat Thani, Phuket, Patthalung, Chaiya dan Songkla juga dari empat provinsi di Thailand Selatan. Pada tahun 1955 di daerah tersebut terdapat sejumlah pondok yang tersebar disekitar Chana.
Diantara sekian banyak pondok yang tersebar di daerah Chana tersebut ada empat buah yang paling terkenal sekitar tahun 1955. Pondok-pondok tersebut adalah :
a.    Pondok Tok Guru Haji Nor: dikenal dengan sebutan ayah Nor (Muhammad Nur)
b.    Pondok Tok Guru Haji Leh (Haji Salih)
c.    Pondok Tok Guru Haji Somad (Haji Abd al Samad )
d.    Pondok Tok Guru Ghani dikenal sebagai Pondok Padang Langa.i6
Pondok Tok Guru Haji Nor berlokasi dibagian Selatan Kota, Pondok Tok Guru Haji Leh dan Pondok Tok Guru Haji Somad berlokasi di Timur dan Barat kota Chana, sedangkan Pondok Tok guru Ghani berlokasi disebelah Selatan kota dikenal di Padang Langa.
Hasan Madmarn, mengemukakan pengalamannya sebagai seorang santri ketika beliau menuntut ilmu di Pondok padang Langa. Hasan madmarn pernah menuntut ilmu diPondok padang langa di bawah asuhan Tok Guru Ghani. Tok Guru Ghani nama lengkapnnya.Tok Guru Abdul Ghani Fikri, Wafat tanggal 28 November 1982.
Faktor lain yang membuat pondok padang langa termasyhur adalah ketika pondok ini mengadopsi sistem madrasah seperti yang ditemukan di negeri-negeri Arab, maka pada tahun 1955, Pondok Padang Langa melakukan pembaharuan (Memodernisasikan) sistem Peandidikannya menjadi madrasah yang diberi nama “Madrasah al-Ftah al Balagh al Mubin “pondok Padang Langa ini masih tetap eksis sampai sekarang.
Materi pelajaran yang diutamakan dipondok adalah berdasarkan pada pembacaan dan pemahaman kitab-kitab klasik, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayu tulisan Jawi. Ciri khas dari pengajaran pondok itu adalah “No syistem of education non fixed syilabus, Each proffesor (tok guru) is having his own method of teching and syllabu .”
Diantara kitab-kitab yang di pelajari di pondok adalah :
1.    Kitab Syadh al ‘Uraffi Fann al Sarf by Ahmad al Hamlawi (1932)
2.    Sharh Ibn ‘Aqil ‘Ala”al Alfiyah by Ibn Malik (1274).
3.    Hashiyah ‘ala’ Sharh alFakihi li Qatr al Nada’by Yasin Ibn Zayn al Din.
4.    Taswiq al Khullan ‘ala’ Sharh al Ajurumiyah by Sayyid Ahmad Zayni Dahlan (1816 or 7­1886).
5.    al Suja’I ‘ala ’ Qatr by ibn al Hisam.
6.    Matn al Ajurrummiyah by Abu Abd Allah Muhammmad Ibn Dawud al Sinhaji know as Ibn Ajurrum (1273 or 4 -1323 ).
7.    Matn al Bina wa al Assas by “Allamah Mulla ‘Abd Allah al Danaqzi.
Fiqh (Islamic Jurisprudence).
1.    Qalyubi wa Umayrah by Shihab al Din al Qalyubi and Syaykh ‘Umayrah.
2.    Fath al Wahhab bi Sharh Manhaj al Tullab by Shaykh al Islam Abi Yahya Zakaria al Ansari.(1413 -1520 ).
3.    Mughni al Muhtaj ila Ma’rifat Alfaaz al Manhaj of al Shaykh Muhammad al Shirbini al Khatib (1570)
4.    al Hashiyah of al Shaykh ‘Abd Allah Ibn Hijazi Ibn Ibrahim al Shafi’i al azhari al Shahir bi al Sharqawi (1737 or 81812).
5.    Hasyiyah al Bayyumi ‘ala’ al Manhaj by Sulaiman Ibn Umar bin muhammad al Bujayri al Shafi’i.
6.    al Ashbah wa al Naza ’ir fi Qawa’id wa furu’ Figh al Shafi ’i by al Imam Jalal al Din Abd al Rahman Ibn Ab bakr al Suyuti (1445 -1505).
7.    al Hashiyah ‘ala ‘Sharh Umm al Barahin by Muhammad Ibn al Dasuqi.
8.    al Iqna ‘fi Hall alfaz abi Shuja by Shaykh Muhammad Shirbini al Khatib (1570).

Tafsir (Quran Commentary)
1.    alFutuhat alIlahiyah by Sulaiman Ibn Umar al Ujayli al Syafi’i al sharir bi al Jamal.
2.    Tafsir al Jalalain by Jalal ad din abd Rahman Ibn Umar al Ujayli al Suyuti and jalal al Din muhammad Ibn ahmad al Mahalli (1389 - 1459).
Hadist. (Prohetic Tradition)
1.   al Adhkar muntakhaba min Kalam sayyid al abrar al Imam Muhyi al Din abi zakariya Yahya Ibn Sharaf zl Nawawi al Dimishqi al Shafi’i.
2.   Riyad al Salihin min Kalam sayyid al mursalim by al Imam al Muhaddith al Hafiz al Muhyi al Din abiu Zakariya Yahya Ibn Sharaf al Nawawi (1233- 1277).
3.    Subul al Salam by al Imam Muhammad Ibn Ismail al Kahlan.
4.   Bulugh al Muram by al Hafiz Shihab al Dim Abi al Fald Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hajar al „Asqalani.(1372 -1449 ).
5.    Jawahir al Bukhari wa Sharh al Qastallani by Mustafa Muhammad Imarah.
6.    Matn al Bukhari by Abu Abd Allah Ibn Ismail al bukhari (810- 870 ).
7.    Sunan Abi Dawud by al Imam Abi Dawud Sulayman (817 or 8 -889 ).
Balaghah (Retoric)
Al Jawahir al Maknun fi al Ma’ani wa al Bayan wa al Badi by Shaykh Ahmad Damhuri.
Materi pelajaran di pondok ini dengan mempergunakan berbagai kitab diantaranya :

a.    AlMuatta’ karya Imam Malik Bin Anas (wafat tahun 795M).
b.   Sahih al Bukhari karya Abu Abd Allah ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Bardizbah al Jufi al Bukhori (Wafat 256 H).
c.    Bulugh alMaram (fiqih ) karya al Hafiz Ahmad ibn Ali ibn Hajar al Asqalani (773 -852 H)
d.   Tafsir Jalalayn the Qur’an Commentary, Jalal al Din Muhammad ibn Ahmad al Muhalli (1389 -1459 M).
e.    AlIqna’ fi Hall AlfazAbi Syuja oleh Syaikh Muhammad Shirbini (Wafat tahun 1570 M).
f.     Kitab Shadha al “Uzaf fi fanu al sarf (marphology) oleh Syaikh Ahmad al Hamlawi.
g.    Matn al Bina wa al Asas (marphology) oleh Allamat Mulla Abd Allah al Dangzi.
h.   Matn al Jurumiyah (grammar) oleh Abu Abd Allah Muhammadibn Daud al Sinhaji dikenal dengan nama ibn Ajurrum.
i.     Tashwiq al khulllam “al sharh al Ajurmiya (grammer) karya Sayyyid Ahmad Zayn Dahlan (1886).
j. Kitab Jawahir al Maknun (retoric)oleh Syaikh Makluf al Munjawi.
k. .Al alfiyah li ibn Malik (gramer) oleh Jamal al Din Muhammad ibn Abd Allah ibn Malik (1274)
Di Patani para pelajar Pondok disebut dengan panggilan Tok Pake yang berasal dari bahasa arab yang berarti orang yang sangat berhajat pada ilmu pengetahuan dan bimbingan agama. Tok guru adalah seorang ahli dalam ilmu agama, wara’, tawaddu’.biasanya sudah haji dan pernah tinggal di Mekkah atau negeri Timur Tengah lainnya. Ada tiga unsur pendidkan Pondok di Patani, yaitu unsur pendidikan Ibadah yaitu menanamkan keteguhan Iman. Tabligh yaitu menyebarkan ilmu, ketiga Amal untuk mewujudkan ajaran Islam dikalangan masyarakat.
Perubahan Pondok ke sistem pendidikan sekolah Islam swasta (madrasah) dengan menganut sistem persekolahan (Madrasah) di Thailand ini, membawa perubahan yang luar biasa bagi masyarakat Islam. Para lulusan sekolah Islam swasta (madrasah) itu dapat memilih kemana mereka ingin melanjutkan pelajarannya sesuai dengan minat dan perhatiannya. Apabila dia berminat dalam bidang Sains, maka dia dapat melanjutkan studi dalam bidang tersebut, begitu juga apabila dia lebih terkonsentrasi dalam bidang agama dan bahasa Arab, juga dapat direalisasikannya untuk melanjutkan studi kebidang tersebut. Banyak diantara lulusan sekolah Islam swasta ini yang melanjutkan studi ke College of Islamic studies, Prince of Songkla
University dan dari situ banyak pula yang melanjutkan studinya ke Islamic International University Malaysia, Universitas kebangsaan Universitas Malaya, Universitas Karachi di Pakistan Aligarh muslim University di India dan School of Islamic and Social Seciences di Virginia USA.
Dua hal yang menyebabkan terjadinya dinamika pembaharuan (modernisasi) dikalangan Pondok di Thailand Selatan. Pertama tuntutan kemajuan dan perubahan zaman. Kedua keikut sertaan Pemerintah Thailand untuk memasukkan mata pelajaran umum ke Pondok.
Pondok-pondok yang telah berubah ini disebut dengan madrasah adapun yang menjadi perubahan dan pembaharuan modernisasi dalam pondok ini adalah Sistemnya, Kurikulum serta manajemennya. Sebagaimana yang telah penulis uraikan tentang ciri-ciri pondok maka pada Madrasah terdapat beberapa ciri antara lain :
a.    Sistemnya klasikal, sistem madrasah ini berdasarkan kelas-kelas dan mempunyai jenjang pendidikan sesuai dengan tingkatan yang ditetapkan.
b.    Mempunyai kurikulum, silabus yang telah ditetapkan pokok- pokok bahasannya serta jadwal pelajaran.
c.    Diajar oleh tenaga pengajar yang memiliki spesialisasi dalam bidang mata pelajaran yang diajarkan di Madrasah tersebut.
d.    Diajarkan dua jenis ilmu pengetahuan, pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Pada pagi hari jam 08.00-12.00. diajarkan ilmu-ilmu agama, dan sore hari pukul 13.00 -  16.00  Pelajaran umum (ada juga yang mencampur antara agama dan pengetahuan umum).
e.    Disamping tenaga pengajar, madrasah juga memerlukan tenaga administrasi yang akan menjalankan administrasi pembelajaran, diantara meraka diadakan pembahagian kerja ada bahagian akademik, ada keuangan dan lain sebagainya.
f.     Sistem manajeman tidak lagi terkonsentrasi pada satu orang sebagaimana di pondok terkonsentrasi kepada tok guru. Di madrasah sistem itu telah berubah kepada adanya pembahagian tangggung jawab (sharing Patner) antara pimpinan madrasah dan ciri kepemimpinnan yang seperti ini menjadikan lembaga pendidikan madrasah tersebut tidak lagi tertutup, tetapi lebih terbuka dan dapat memerima ide baru dan pemikiran baru yang datang dari luar.
g.    Karena mata pelajaran di madrasah diajarkan dengan bervariasi, adanya mata pelajaran agama dan umum, maka madrasah memerlukan pula beraneka ragam fasilitas pendidikan dan pengajaran, misalnya labolatorium bahasa, labolatorium komputer, labolatorium sains dan alat-alat olah raga.
Sebagaimana telah di uraikan diatas bahwa sistem pendidikan di madrasah ini mamakai sistem klasikal, yakni ada tingkatan-tingkatan dan jenjang-jenjangnya, baik jenjang itu berdasarkan kelas maupun jenjang berdasarkan tingkatan sekolah. Institusi madrasah di Thailand dapat dibagi kepada tiga tingkatan: Ibtidaiyah, mutawasithah, tsanawiyah.
Diantara sekian banyak lembaga pendidikan Islam di Thailand Selatan ini penulis mengambil contoh yang melaksanakan model madrasah adalah : Madrasah Muhammadiyah (Srifaridabaru Witya School, Raman-Yala).
Lembaga pendidikan ini berjarak sekitar 10 km dari pusat kota Yala. Lembaga pendidikan ini dulunya adalah lembaga pendidikan pondok tradisional. Kemudian sesuai dengan tuntunan kemajuan zaman dan berbagai faktor yang telah disebutkan terdahulu, maka lembaga pendidikan ini berubah menjadi sistem Madrasah, dilembaga ini diajarkan ilmu agama dan umum, pada pagi hari ilmu-ilmu pengetahuan agama dan pada sore hari ilmu pengatahuan umum. Lulusan dari madrasah ini dapat melanjutkan studinya keperguruan tinggi umum dan perguruan tinggi agama.
Buku-buku pengetahuan umum diambil dari buku-buku yang diterapkan oleh pemerintah dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan. Sedangkan buku-buku pelajaran agamanya dibuat sendiri oleh Ma’had Sekolah. Mata pelajaran terdiri dari: Qur’an, Aqidah Syariah, Bahasa Melayu, Pengajian Islam, Bahasa Arab, Tauhid, Fiqih, Hadist, Tafsir, Tarikh, Qawaid. Mata pelajaran Umum berpedoman pada kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah. Mata pelajarannya terdiri Bahasa Inggris, Bahasa Thailand, Matematika, sains, kegiatan keorganisasian dan kegiatan kemasyarakatan.
Lembaga pendidikan Madrasah, yang menggabungkan antara pelajaran agama dan pelajaran umum adalah madrasah rahmaniyyah. Madrasah ini juga pada mulanya adalah lembaga pendidikan pondok yang berubah menjadi sistem Madrasah. Dari segi sistemnya tidak jauh berbeda dengan Ma’had Attarbiyah. Dilembaga ini juga pengaturan sesi pelajaran agamanya pada pagi hari dan pelajaran umumnya pada sore hari. Kurikulum pelajaran umumnya diambil dari kurikulum pemerintah.Tingkat pendidikan yang dilaksanakan disini adalah :
a.    Taman kanak- kanak (Anuban) belajar selama tiga tahun.
b.   Ibtidaiyyah belajar selama empat tahun.
c.    Mutawassithah belajar selama tiga tahun.
d.   Tsanawiyah belajar selama tiga tahun.
Setelah para pelajar tammat dari Tsanawiyah maka mereka diperbolehkan melanjutkan studinya keperguruan tinggi agama dan perguruan tinggi umum.

Pondok di Thailand selatan secara keseluruhan dapat dikatakan sama dengan pesantren di Jawa atau tempat - tempat lain di Indonesia pada awalnya sebelum mengalami modernisasi .
Dua hal yang menyebabkan terjadinya pembaharuan (Modernisasi) dikalangan Pondok di Thailand Selatan. Pertama tuntutan kemajuan dan perubahan zaman, Kedua keikut sertaan pemerintah Thailand untuk memasukkan mata pelajaran umum ke Pondok.
Pendidikan Islam di Thailand pada masa yang akan datang perlu perubahan yang lengkap baik dari segi manajemen tenaga guru yang profesional, kesediaan media pembelajaran serta perpustakaan yang lengkap dengan kemudahan internet dan buku-buku multi bahasa. Nilai dan semangat persaudaraan dalam Islam perlu diserap agar semua masyarakat Islam menuju ke arah yang lebih modern sesuai dengan landasan Islam.


About this blog

Pengikut